Powered By Blogger

Sabtu, 22 September 2012

GAS (Gerakan Amal Sampah) Community - “Go Green And Zero Polution”


Pendahuluan
Isu-isu penyelamatan dan pelestarian lingkungan mulai gencar didengungkan dunia Internasional kurang lebih semenjak 3 dekade terakhir. Dunia internasional aktif menyuarakan kelestarian lingkungan sebagai roh dalam setiap kegiatan.
Meskipun demikian, kesadaran manusia akan kelestarian lingkungan seakan masih kurang. Di Indonesia sendiri cukup banyak dijumpai kegiatan-kegiatan yang belum memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Tanpa harus menyebutkan satu-persatu kasusnya, kita patut mengakui bahwa persoalan-persoalan ketidaksadaran masyarakat kita pada nasib lingkungan hidup masih mudah dijumpai, bahkan dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.
Dengan mengambil momentum tersebut diatas, maka kami sebagai masyarakat yang peduli polusi dari Kabupaten Lumajang bermaksud mengingatkan kembali kepada seluruh masyarakat seluruh Indonesia secara umum dan masyarakat Lumajang secara khusus, untuk berani menyerukan semangat persatuan untuk kembali menghijaukan tanah air Indonesia.
Seruan yang kita awali melalui GAS (Gerakan Amal Sampah) ini dengan hal-hal kecil di sekitar kita. Bentuk seruan GAS tersebut akan kami wujudkan dalam berbagai kegiatan positif dengan tema utama “Go Green And Zero Polution” Lumajang 2012 yang bertajuk “Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Hijau” bersama GAS Community (Komunitas Gerakan Amal Sampah) ini.
Melalui kegiatan amal ini, kami mengajak Bapak/Ibu/Saudara untuk turut mendukung sukses terlaksananya program GAS nantinya melalui berbagai macam mekanisme sebagai donor dan konsumen pemakai kerajinan dari limbah/ sampah plastik yang diproduksi oleh Gubug Plastik Lumajang.
Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar ±  30%. Sampah sering dianggap sebagai sesuatu yang mengotori lingkungan terutama sampah anaorganik. Sampah anorganik dikatakan mengotori lingkungan karena tidak bisa membusuk. Akan tetapi anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Tidak selamanya sampah anorganik mengotori lingkungan. Sampah anorganik tidak akan mengotori lingkungan jika dikelola dengan baik. Pemanfaatan sampah anorganik dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan kepada pengepul.
Sampah anorganik tersebut dicuci dan dibersihkan. Setelah itu dipotong kemudian dibentuk menjadi sedemikian rupa yang menghasilkan kerajinan tangan dari sampah anorganik. Sampah anorganik itu dibuat kerajinan tangan dengan cara dijahit maupun diberi lem. Hasil kerajinan tangan yang dibuat berupa tas, anting-anting, bros, anyaman, bunga, dompet, aneka hiasan rumah dan sebagainya.
Oleh karena itu, GAS Community sangat tertarik dalam memanfaatan sampah plastik menjadi barang bernilai, dengan Gerakan Amal Sampah (GAS) dan Gerakan Seribu Rupiah (GSR).

Masalah Sampah Plastik
Dua masalah besar dari sekian banyak masalah yang sedang mendera bangsa Indonesia adalah masalah ekonomi berupa masih tingginya angka pengangguran dan rendahnya tingkat penghasilan masyarakat serta kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan belum tuntasnya penanganan sampah.
Data BPS menunjukkan, pada Februari 2011 dari total angkatan kerja sebanyak 119,3 juta orang, 8,12 juta menganggur (terlihat kecil karena orang yang bekerja selama satu jam terus menerus dalam seminggu sudah dianggap telah bekerja), dan terdapat 30,02 juta orang miskin.
Soal sampah, merujuk pada asumsi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), setiap hari penduduk Indonesia menghasilkan 0,8 kg sampah. Total 237 juta x 0,8 kg = 189 juta ton sampah/hari. 15% berupa sampah plastik atau sejumlah 28,4 juta ton sampah plastik/hari. Sampah plastik inilah yang paling sulit diatasi sebab membutuhkan waktu 400–1.000 untuk bisa terurai kembali.
Mereka yang menikmati rezeki dari sampah plastik adalah yang bergelut dalam daur ulang sampah sistem pabrikasi, yaitu para pemulung, pengepul, bandar dan yang terlibat dalam pabrik daur ulang plastik. Namun sistem ini hanya mengolah sampah plastik bernilai ekonomis tinggi dan membutuhkan modal sampai miliaran rupiah.
Karena itu baru 5% sampah plastik yang telah didaur ulang, sisanya tercecer dibanyak tempat menjadi sarang penyakit, tertimbun mengurangi kesuburan tanah serta menyumbat saluran drainase dan sungai menyebabkan banjir. Belum kunjung tuntasnya penanganan masalah sampah plastik lebih disebabkan masih menguatnya pola pikir pada hampir semua masyarakat Indonesia bahwa sampah plastik adalah benda jelek, kotor, kurang berharga dan sumber masalah sehingga harus disingkirkan. Meskipun sosialisasi pemilahan sampah dan buang sampah pada tempatnya telah diterapkan sebagian besar masyarakat Indonesia diperkuat dengan armada pengangkut sampah dan anggaran kebersihan, berapa banyak pun TPS dan TPA dibangun, tidak akan mampu menampung sampah plastik yang terus menerus diproduksi masyarakat.
Penetapan denda bagi pembuang sampah sembarangan tidak berhasil ditegakkan. Berbagai kampanye untuk mengurangi penggunaan kantong plastik terbukti tidak memberikan pengaruh yang signifikan karena mengharuskan adanya perubahan perilaku yang sangat sulit dilakukan oleh banyak orang, apalagi kesadaran masyarakat Indonesia terhadap lingkungan yang sehat dan bersih masih rendah. Begitu pula aktivitas masyarakat membuat kerajinan daur ulang plastik terbentur pada masalah kesulitan teknis produksi, variasi produk dan kurang diterima pasar, sehingga meski telah berjalan bertahun-tahun belum menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap pengurangan sampah plastik dan penciptaan lapangan kerja baru.
Berdasarkan dari uraian diatas, maka munculah permasalahan sebagai berikut : 1). Apa dampak negatif serta manfaat dari sampah anorganik?, 2). Bagaimana cara mengelola sampah anorganik?, 3). Bagaimana solusi untuk menyelesaikan masalah sampah ? 

Tujuan Kegiatan
GAS (Gerakan Amal Sampah) “Go Green And Zero Polution” Lumajang 2012 - ”Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Hijau Indonesia” sebagai kampanye dan langkah konkret pelestarian alam Indonesia oleh generasi muda Lumajang sebagai langkah awal. Tujuan dari kegiatan ini adalah : 1- Mendaur ulang sampah plastik, 2- Memanfaatkan daur ulang sampah plastik, 3- Mencari solusi dari permasalahan sampah.

Bentuk Kegiatan
1.   Mengumpulkan sampah/ limbah plastik pada setiap rumah tangga yang ada di Kabupaten   Lumajang.
2.   Membuat kerajinan dari sampah/ limbah plastik menjadi produk yang bermafaat dan bernilai ekonomis.
3.     Memberikan pelatihan pemberdayaan perempuan melalui kerajinan dari limbah/ sampah plastik.
Manfaat Produk
Barangkali plastik bekas kemasan pewangi pakaian atau pembersih lantai hanya teronggok di tempat sampah. Misalnya, dulu plastik kemasan bekas seperti ini tidak laku, tapi sekarang bisa laku dan banyak dipergunakan serta banyak manfaatnya.
Namun bagi kami, sebagai warga peduli lingkungan di Kabupaten Lumajang yang sudah bergelut dengan limbah plastik tersebut, kami merasa barang-barang itu punya daya tarik tersendiri dan akan menjadi manfaat bagi orang lain.
GAS (Gerakan Amal Sampah) Community dengan Gubug Plastik-nya sebagai Base Camp kerajinan sampah plastik. Yang mana, tempat ini yang menjadi inspirasi untuk membuat aneka produk kerajinan yang bermanfaat dan punya nilai jual dengan memanfaatkan sampah plastik yang terbuang percuma. Aneka produk tas berbagai model, sandal, tempat pensil, wadah kosmetik, dll dengan hasil karya yang menarik.
Sampai dengan saat ini GAS dengan keuletan tim-nya banyak membuat variasi produk yang dihasilkan dari limbah/ sampah tersebut, hal ini dikarenakan beberapa dukungan dari masyarakat yang peduli dengan menawarkan jasanya untuk menjahit sampah palstik menjadikannya produk yang bermanfaat. Ini sebuah usaha keras yang sudah dilakukan GAS Community, meski diakui pemasaran produk limbah/ sampah plastik seperti ini tidak mudah.
GAS Community dengan gerakan yang nantinya berkesinambungan sebagai salah satu wadah melatih kita untuk beramal dan peduli terhadap sesama manusia, karena masih banyak warga masyarakat yang membutuhkan disekitar kita.

Hasil Produk Kerajinan Yang Ditawarkan
1.    Tas Sekolah                               : Rp. 60.000.-
2.    Tas Pinggang                             : Rp. 30.000.-
3.    Hand Bag (3)                             : Rp. 60.000.-
4.    Celemek                                    : Rp. 25.000.-
5.    Tempat Tisu Kotak                      : Rp. 20.000.-
6.    Tempat Kosmetik                        : Rp. 35.000.-
7.    Tempat Pencil                            : Rp. 12.000.-
8.    Tempat Koin                              : Rp.   6.000.-
9.    Sandal                                       : Rp. 15.000.-
1.   Gantungan Kunci                        : Rp.   5.000.-

Kendala Dan Hambatan
Salah satu kendalanya adalah mindset masyarakat yang terkotak-kotak dengan limbah plastik yang berkonotasi sampah. Serta harga yang akan kami tawarkanpun akan dianggap terlalu mahal, karena sampah tersebut tak punya nilai jual dan dijual dari harga puluhan ribu sampai dengan ratusan ribu.

Marketing
Kami juga akan memasarkan produk dari berbagai jenis kerajinan itu melewati website, blog http://gas-gubug-plastik.blogspot.com, flyer, baliho dll. Selain dari media ini kami juga akan banyak melayani pesanan relasi, keluarga, sahabat, teman yang berada luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Batam dan Padang agar mau merespon produk tersebut.
Beberapa masyarakat Lumajang sudah banyak memberikan respon yang cukup bagus akan kegiatan ini.
Dimungkinkan warga Lumajang yang mempunyai pendapatan diatas rata-rata UMR tidak hanya membeli produk buatan kami, tetapi akan menjadi donor/ donatur limbah/ sampah plastik secara rutin, harian, mingguan, atau bulanan dengan program pergerakan GSR (Gerakan Seribu Rupiah).

Target Dan Sasaran
Kami juga akan memberikan keterampilan terhadap masyarakat lainnya bagaimana cara pembuatan produk kerajinan itu seperti sewaktu pertemuan PKK atau agenda rutin pengajian lingkungan, pemuda pemudi karang taruna atau warga masyarakat dalam komunitas lainnya.
Dengan membeli produk ini sama saja kita mengurangi beban limbah/ sampah plastik yang sulit terurai karena dibutuhkan ratusan tahun untuk itu.

Penutup
GAS Community mempunyai beberapa harapan, yaitu diharapkan Pemerintah ikut mengembangkan usaha ini, supaya sampah anorganik (sampah yang sulit terurai) tidak menjadi masalah sosial lagi di lingkungan sekitar sekaligus usaha tersebut dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi para pengangguran.
Diharapkan pula kepada semua masyarakat Lumajang agar tidak lagi membuang sampah anorganik, melainkan mengumpulkan dan memberikan kepada Gubug Plastik agar nantinya dapat didaur ulang sampah tersebut menjadi barang yang bernilai, sehingga pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah anorganik dapat dikurangi.
GAS Community hanya berharap masyarakat bisa tergugah dan semakin meminati hasil kreativitas daur ulang ini. Mari Dukung Gerakan Amal Sampah dan Gerakan Seribu Rupiah ini !!! Selamat Beramal .... dan Nikmati Rasanya Beramal ....


 Contact Person : 085895130293 ( FUAD )

G A S

Community
Gerakan
Amal
Sampah