Pendahuluan
Isu-isu penyelamatan dan pelestarian lingkungan mulai gencar didengungkan dunia
Internasional kurang lebih semenjak 3 dekade terakhir. Dunia internasional aktif
menyuarakan kelestarian lingkungan sebagai roh dalam setiap kegiatan.
Meskipun demikian, kesadaran manusia akan kelestarian lingkungan seakan
masih kurang. Di Indonesia sendiri cukup banyak dijumpai kegiatan-kegiatan yang
belum memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Tanpa harus menyebutkan
satu-persatu kasusnya, kita patut mengakui bahwa persoalan-persoalan
ketidaksadaran masyarakat kita pada nasib lingkungan hidup masih mudah
dijumpai, bahkan dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.
Dengan mengambil momentum tersebut diatas, maka kami sebagai masyarakat
yang peduli polusi dari Kabupaten Lumajang bermaksud mengingatkan kembali
kepada seluruh masyarakat seluruh Indonesia secara umum dan masyarakat Lumajang
secara khusus, untuk berani menyerukan semangat persatuan untuk kembali
menghijaukan tanah air Indonesia.
Seruan yang kita awali melalui GAS (Gerakan Amal Sampah) ini dengan hal-hal
kecil di sekitar kita. Bentuk seruan GAS tersebut akan kami wujudkan dalam berbagai
kegiatan positif dengan tema utama “Go Green And Zero Polution” Lumajang 2012 yang
bertajuk “Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Hijau” bersama GAS Community
(Komunitas Gerakan Amal Sampah) ini.
Melalui kegiatan amal ini, kami mengajak Bapak/Ibu/Saudara untuk turut
mendukung sukses terlaksananya program GAS nantinya melalui berbagai macam mekanisme
sebagai donor dan konsumen pemakai kerajinan dari limbah/ sampah plastik yang diproduksi
oleh Gubug Plastik Lumajang.
Di
negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik,
sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar ± 30%. Sampah sering
dianggap sebagai sesuatu yang mengotori lingkungan terutama sampah anaorganik. Sampah
anorganik dikatakan mengotori lingkungan karena tidak bisa membusuk. Akan
tetapi anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Tidak selamanya sampah anorganik
mengotori lingkungan. Sampah anorganik tidak akan
mengotori lingkungan jika dikelola dengan baik. Pemanfaatan sampah anorganik
dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pemanfaatan kembali secara
langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas,
atau kertas daur ulang. Pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya
menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas
dan botol air minum dalam kemasan kepada pengepul.
Sampah anorganik tersebut dicuci dan
dibersihkan. Setelah itu dipotong kemudian dibentuk menjadi sedemikian rupa
yang menghasilkan kerajinan tangan dari sampah anorganik. Sampah anorganik itu
dibuat kerajinan tangan dengan cara dijahit maupun diberi lem. Hasil kerajinan
tangan yang dibuat berupa tas, anting-anting, bros, anyaman, bunga, dompet, aneka
hiasan rumah dan sebagainya.
Oleh karena
itu, GAS Community sangat tertarik
dalam memanfaatan sampah plastik menjadi barang bernilai, dengan Gerakan Amal Sampah (GAS) dan Gerakan Seribu Rupiah (GSR).
Masalah
Sampah Plastik
Dua masalah besar dari sekian banyak masalah yang sedang mendera bangsa Indonesia
adalah masalah ekonomi berupa masih tingginya angka pengangguran dan rendahnya
tingkat penghasilan masyarakat serta kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan
belum tuntasnya penanganan sampah.
Data BPS menunjukkan, pada Februari 2011 dari total angkatan kerja sebanyak
119,3 juta orang, 8,12 juta menganggur (terlihat kecil karena orang yang
bekerja selama satu jam terus menerus dalam seminggu sudah dianggap telah
bekerja), dan terdapat 30,02 juta orang miskin.
Soal sampah, merujuk pada asumsi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), setiap
hari penduduk Indonesia menghasilkan 0,8 kg sampah. Total 237 juta x 0,8 kg =
189 juta ton sampah/hari. 15% berupa sampah plastik atau sejumlah 28,4 juta ton
sampah plastik/hari. Sampah plastik inilah yang paling sulit diatasi sebab
membutuhkan waktu 400–1.000 untuk bisa terurai kembali.
Mereka yang menikmati rezeki dari sampah plastik adalah yang bergelut dalam
daur ulang sampah sistem pabrikasi, yaitu para pemulung, pengepul, bandar dan
yang terlibat dalam pabrik daur ulang plastik. Namun sistem ini hanya mengolah
sampah plastik bernilai ekonomis tinggi dan membutuhkan modal sampai miliaran
rupiah.
Karena itu baru 5% sampah plastik yang telah didaur ulang, sisanya tercecer
dibanyak tempat menjadi sarang penyakit, tertimbun mengurangi kesuburan tanah serta
menyumbat saluran drainase dan sungai menyebabkan banjir. Belum kunjung
tuntasnya penanganan masalah sampah plastik lebih disebabkan masih menguatnya
pola pikir pada hampir semua masyarakat Indonesia bahwa sampah plastik adalah
benda jelek, kotor, kurang berharga dan sumber masalah sehingga harus
disingkirkan. Meskipun sosialisasi pemilahan sampah dan buang sampah pada
tempatnya telah diterapkan sebagian besar masyarakat Indonesia diperkuat dengan
armada pengangkut sampah dan anggaran kebersihan, berapa banyak pun TPS dan TPA
dibangun, tidak akan mampu menampung sampah plastik yang terus menerus
diproduksi masyarakat.
Penetapan denda bagi pembuang sampah sembarangan tidak berhasil ditegakkan.
Berbagai kampanye untuk mengurangi
penggunaan kantong plastik terbukti tidak memberikan pengaruh yang signifikan
karena mengharuskan adanya perubahan perilaku yang sangat sulit dilakukan oleh
banyak orang, apalagi kesadaran masyarakat Indonesia terhadap lingkungan yang
sehat dan bersih masih rendah. Begitu pula aktivitas masyarakat membuat
kerajinan daur ulang plastik terbentur pada masalah kesulitan teknis produksi,
variasi produk dan kurang diterima pasar, sehingga meski telah berjalan
bertahun-tahun belum menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap pengurangan
sampah plastik dan penciptaan lapangan kerja baru.
Berdasarkan dari uraian diatas,
maka munculah
permasalahan sebagai berikut : 1). Apa
dampak negatif serta manfaat dari sampah anorganik?, 2). Bagaimana
cara mengelola sampah anorganik?, 3). Bagaimana
solusi untuk menyelesaikan masalah sampah ?
Tujuan Kegiatan
GAS (Gerakan Amal Sampah) “Go Green And Zero Polution” Lumajang 2012 - ”Satu
Nusa, Satu Bangsa, Satu Hijau Indonesia” sebagai kampanye dan langkah konkret
pelestarian alam Indonesia oleh generasi muda Lumajang sebagai langkah awal. Tujuan dari kegiatan ini adalah : 1- Mendaur ulang sampah plastik, 2- Memanfaatkan
daur ulang sampah plastik, 3- Mencari solusi dari permasalahan sampah.
Bentuk Kegiatan
1. Mengumpulkan sampah/
limbah plastik pada setiap rumah tangga yang ada di Kabupaten Lumajang.
2. Membuat
kerajinan dari sampah/ limbah plastik menjadi produk yang bermafaat dan
bernilai ekonomis.
3. Memberikan
pelatihan pemberdayaan perempuan melalui kerajinan dari limbah/ sampah plastik.
Manfaat Produk
Barangkali
plastik bekas kemasan pewangi pakaian atau pembersih lantai hanya teronggok di
tempat sampah. Misalnya,
dulu plastik kemasan bekas seperti ini tidak laku, tapi sekarang bisa laku dan banyak
dipergunakan serta banyak manfaatnya.
Namun bagi kami, sebagai
warga peduli lingkungan di Kabupaten Lumajang yang sudah bergelut dengan limbah plastik tersebut, kami merasa barang-barang itu punya daya tarik tersendiri dan akan
menjadi manfaat bagi orang lain.
GAS (Gerakan Amal
Sampah) Community dengan Gubug Plastik-nya sebagai Base Camp kerajinan sampah
plastik. Yang mana, tempat ini yang menjadi inspirasi untuk membuat aneka produk kerajinan yang
bermanfaat dan punya nilai jual dengan memanfaatkan sampah plastik yang terbuang
percuma. Aneka
produk tas berbagai model, sandal, tempat pensil, wadah kosmetik, dll dengan
hasil karya yang
menarik.
Sampai dengan saat ini GAS dengan keuletan tim-nya banyak membuat variasi produk yang dihasilkan dari limbah/
sampah tersebut, hal ini dikarenakan beberapa dukungan dari masyarakat yang
peduli dengan menawarkan jasanya untuk menjahit sampah palstik menjadikannya
produk yang bermanfaat. Ini sebuah usaha
keras yang sudah dilakukan GAS Community,
meski diakui
pemasaran produk limbah/ sampah plastik seperti ini tidak mudah.
GAS Community dengan gerakan yang nantinya berkesinambungan
sebagai salah satu wadah melatih kita untuk beramal dan peduli terhadap sesama
manusia, karena masih banyak warga masyarakat yang membutuhkan disekitar kita.
Hasil Produk Kerajinan Yang
Ditawarkan
1. Tas Sekolah : Rp. 60.000.-
2. Tas Pinggang : Rp.
30.000.-
3. Hand Bag (3) : Rp. 60.000.-
4. Celemek : Rp.
25.000.-
5. Tempat Tisu
Kotak : Rp. 20.000.-
6. Tempat Kosmetik : Rp. 35.000.-
7. Tempat Pencil : Rp. 12.000.-
8. Tempat Koin : Rp. 6.000.-
9. Sandal :
Rp. 15.000.-
1. Gantungan Kunci : Rp. 5.000.-
Kendala Dan Hambatan
Salah satu
kendalanya adalah mindset masyarakat
yang terkotak-kotak dengan limbah plastik yang berkonotasi sampah. Serta harga yang akan kami
tawarkanpun akan dianggap terlalu mahal, karena
sampah tersebut tak punya
nilai jual dan dijual dari harga puluhan ribu sampai dengan
ratusan ribu.
Marketing
Kami juga akan memasarkan produk dari
berbagai jenis kerajinan itu melewati website, blog http://gas-gubug-plastik.blogspot.com, flyer, baliho
dll. Selain dari media ini kami juga akan banyak melayani pesanan relasi,
keluarga, sahabat, teman yang berada luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Batam dan Padang agar mau merespon produk
tersebut.
Beberapa masyarakat Lumajang sudah
banyak memberikan respon yang cukup bagus akan kegiatan ini.
Dimungkinkan warga Lumajang yang mempunyai pendapatan diatas rata-rata UMR
tidak hanya
membeli produk buatan kami, tetapi akan menjadi donor/ donatur limbah/
sampah plastik secara rutin, harian, mingguan, atau bulanan dengan program
pergerakan GSR (Gerakan Seribu
Rupiah).
Target Dan Sasaran
Kami juga akan memberikan keterampilan terhadap masyarakat lainnya bagaimana cara pembuatan produk
kerajinan itu seperti sewaktu
pertemuan PKK atau agenda rutin pengajian lingkungan, pemuda pemudi karang taruna atau
warga masyarakat dalam komunitas lainnya.
Dengan
membeli produk ini sama saja kita mengurangi beban limbah/ sampah plastik yang sulit terurai karena dibutuhkan ratusan tahun untuk itu.
Penutup
GAS Community mempunyai beberapa harapan, yaitu diharapkan Pemerintah
ikut mengembangkan usaha ini, supaya sampah anorganik (sampah yang sulit
terurai) tidak menjadi masalah sosial lagi di lingkungan sekitar sekaligus
usaha tersebut dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi para
pengangguran.
Diharapkan pula kepada semua masyarakat
Lumajang agar tidak lagi membuang sampah anorganik, melainkan mengumpulkan dan
memberikan kepada Gubug Plastik agar
nantinya dapat didaur ulang sampah tersebut menjadi barang yang bernilai,
sehingga pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah anorganik dapat
dikurangi.
GAS Community hanya berharap masyarakat bisa
tergugah dan semakin meminati hasil kreativitas daur ulang ini. Mari Dukung Gerakan Amal Sampah dan Gerakan Seribu Rupiah ini !!! Selamat
Beramal .... dan Nikmati Rasanya Beramal ....
Contact Person : 085895130293 ( FUAD )
G A S
Community
Gerakan
Amal
Sampah





Tidak ada komentar:
Posting Komentar